Menurut Anda, apakah Gus Dur pantas dianugerahi gelar Pahlawan Nasional?

WELCOME TO ADI SANJAYA BLOG

Mari Kita Berpetualang Melewati Ruang dan Waktu Melalui Sebuah Pesona Perlawatan Sejarah

Rabu, 21 Oktober 2009

EVALUASI PENDIDIKAN

TUGAS EVALUASI PENDIDIKAN

1. Prinsip-prinsip penilaian (assesement) yang harus dipegang oleh guru dalam melaksanakan tugas pembelajaran sesungguhnya mengacu pada satu prinsip umum dan penting dalam kegiatan evaluasi, yaitu adanya triangulasi (hubungan erat antara tiga komponen), yaitu antara tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran atau KBM, dan evaluasi.



a. Hubungan antara tujuan dengan KBM

Kegiatan belajar-mengajar yang dirancang dalam bentuk rencana mengajar disusun oleh guru dengan mengacu pada tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian, anak panah yang menunjukkan hubungan antara keduanya mengarah pada tujuan dengan makna bahwa KBM mengacu pada tujuan, tetapi juga mengarah dari tujuan KBM, menunjukkan langkah dari tujuan dilanjutkan pemikirannya ke KBM.

b. Hubungan antara tujuan dengan evaluasi

Evaluasi adalah kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana tujuan yang sudah tercapai. Dengan makna demikian maka anak panah berasal dari evaluasi menuju ke tujuan. Di lain sisi, jika dilihat dari langkah, dalam menyusun alat evaluasi ia mengacu pada tujuan yang sudah dirumuskan.

c. Hubungan antara KBM dengan evaluasi

Seperti yang sudah disebutkan di atas, KBM dirancang dan disusun mengacu pada yang telah dirumuskan, dan bahwa alat evaluasi juga disusun mengacu pada tujuan. Selain mengacu pada tujuan, evaluasi juga mengacu atau disesuaikan dengan KBM yang dilaksanakan. Misalnya, jika belajar-mengajar dilakukan oleh guru dengan menitikberatkan pada keterampilan, evaluasinya juga harus mengukur tingkat keterampilan siswa, bukannya aspek pengetahuan (Arikunto, 2002 : 24-25). Secara lebih khusus lagi, Slameto menyatakan ada beberapa prinsip-prinsip evaluasi yang haus dipegang guru dalam mengajar antara lain :

a) Prinsip Keterpaduan. Dalam prinsip ini menerangkan bagaimana perencanaan penilaian tersebut harus dilakukan secara bersamaan dengan perencanaan satuan program pengajaran, dan disarankan lagi bahwa hendaknya yang dilakukan oleh seorang guru sebelum pelajaran dimulai bisa melakukan penilaian awal (pre test) yang akan dibandingkan kemudian dengan penilaian akhir (post test). Penilaian yang dilaksanakan sebelumnya itu sekaligus merupakan paduan pula dalam melaksanakan program kegiatan belajar-mengajar.

b) Prinsip Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Prinsip ini menekankan bagaimana keterlibatan siswa secara mental, antusias dan suka di dalam kegiatan belajar mengajar. Evaluasi merupakan puncak dari kegiatan belajar mengajar. Pada dasarnya siswa sendirilah yang ingin mengukur kemampuan melalui evaluai, guru hanya berfungsi untuk membantunya, sehingga siswa mendapatkan tingkat kepuasan tertentu.

c) Prinsip Kontinuitas dan Keseluruhan. Penilaian yang dilakukan oleh seorang guru dalam proses pembelajaran tidak saja terdapat pada awal atau akhir pelajaran, tetapi juga selama proses belajar mengajar tersebut berlangsung. Dalam hal ini penilaian tersebut bisa berupa proses tanya jawab, pengamatan yang dilakukan oleh guru tersebut. Hal tersebut dilakukan dalam rangka pemantapan program.

d) Prinsip Koherensi. Prinsip ini menyatakan bagaimana penilaian tersebut harus pula mempunyai koherensi (hasil yang sama) dengan program pengajaran, artinya dalam penilaian itu harus benar-benar hasil yang diperoleh dari kegiatan belajar mengajar baik itu tatap muka ataupun kegiatan terstruktur.

e) Prinsip Diskriminalitas. Dalam hal ini penilaian harus mampu menunjukkan perbedaan di kalangan siswa secara individual. Apabila dalam suatu kelas tersebut menunjukkan nilai yang sama, maka penilaian tersebut akan sangat dipertanyakan.

f) Prinsip Pedagogis. Seluruh kegiatan penilaian haruslah diketahui dan dirasakan oleh siswa tidak hanya sebagai rekaman hasil belajarnya melainkan juga sebagai upaya perbaikan dan peningkatan perilaku dan sikap dari para siswa tersebut, sehingga nantinya akan dirasakan sebagai penghargaan bagi yang berhasil dan “hukuman” bagi yang belum berhasil guna mengubahnya. Dengan demikian evaluasi akan ikut membentuk perilaku dan sikap yang positif siswa.

g) Prinsip Akuntabilitas (Accountability). Melalui penilaian ini kita dapat mempertanggungjawabkan hasil pendidikan yang kita selenggarakan kepada masyarakat, keluarga dan sekolah. Pertanggungjawaban kepada ketiga pihak ini merupakan hal yang harus dipertimbangkan dalam evaluasi. Dengan kata lain, melalui evaluasi kita mempertanggungjawabkan hasil pendidikan yang kita selenggarakan kepada ketiga pihak tersebut (Slameto, 2001: 16-19).

2. Asessmen kinerja dan asessmen portofolio dikatakan sebagai asessmen yang otentik karena kedua asessmen tersebut dapat secara langsung bermakna, dalam arti apa yang diases (dinilai) memang demikian yang sesungguhnya terjadi, dan dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kedua penilaian (assesmen) ini merupakan penilaian yang nyata yang akan diterima baik itu oleh guru tersebut ataupun oleh siswanya. Selain itu juga kedua assesmen ini dalam hal penilaiannya lebih akurat atau tepat jika dibandingkan dengan penilaian yang lainnya. Namun kedua assesmen ini juga mempunyai perbedaan di dalamnya, dimana assesmen kinerja bisa bersifat individu atau kelompok. Sedangkan assesmen fortofolio sifatnya sama dengan assesmen kinerja, tetapi dalam hal ini kelebihan dari assesmen fortofolio cenderung dari hasil karya yang ada atau bukti-bukti yang dikumpulkan ketika dalam penyerahan tugas tersebut. Tetapi pada kenyataannya kedua assesmen ini saling bekerja sama atau saling membantu dalam penilaian siswa sebagai individu atau kelompok dalam suatu penyajian atau proses belajar pembelajaran baik berupa presentasi atau tindakannya di dalam kelas.

Asessmen otentik memiliki sifat-sifat : 1) berbasis kompetensi yaitu asessmen yang mampu memantau kompetensi seseorang; 2) individual : kompetensi tidak dapat disamaratakan pada semua orang, tetapi bersifat personal. Asessmen otentik dapat secara langsung mengukur kemampuan individu; 3) berpusat pada siswa, karena direncanakan, dilakukan, dan dinilai oleh siswa sendiri; mengungkapkan seoptimal mungkin kelebihan setiap individu dan juga kekurangannya; 4) tak terstruktur dan open-ended: percepatan penyelesaian tugas-tugas otentik tidak bersifat uniformed dan klasikal, juga kinerja yang dihasilkan tidak harus sama antar individu di suatu kelas; 5) terintegrasi dengan proses pembelajaran, dengan demikian siswa tidak selalu dalam kondisi tes; on going atau berkelanjutan, oleh karena itu asessmen harus dilakukan secara langsung saat proses belajar berlangsung.

a. Asessmen Kinerja

Asessmen kinerja adalah suatu prosedur yang menggunakan berbagai bentuk tugas-tugas untuk memperoleh informasi tentang apa dan sejauh mana yang telah dilakukan dalam suatu program. Pemantauan dilakukan didasarkan atas kinerja (performance) yang ditunjukkan dalam menyelesaikan tugas atau permasalahan yang diberikan. Hasil yang diperoleh merupakan suatu hasil dari unjuk kerja tersebut. Hasil dari asessmen kinerja dapat diketahui secara langsung, sehingga guru dapat memberikan asessmen/penilaian secara langsung. Oleh karena itulah asessmen kinerja ini tergolong asessmen yang bersifat otentik.

b. Asessmen Portofolio

Portofolio adalah sekumpulan artefak (bukti karya/kegiatan/data) sebagai bukti (evidence) yang menunjukkan perkembangan dan pencapaian siswa dalam suatu program pembelajaran. Perlu diketahui bahwa sebuah portofolio bukan semata-mata kumpulan bukti yang tidak bermakna. Portofolio harus disusun berdasarkan tujuannya. Asessmen portofolio membantu pencapaian target kempetensi karena asessmen portofolio ini adalah suatu pendekatan asessmen yang komprehensif, yaitu mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotor secara bersama-sama, berorientasi pada proses maupun produk belajar, dan dapat memfasilitasi kepentingan dan kemampuan siswa secara individual.

3. Jenis-jenis dari achievement test secara umum dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu jenis Tes dan Non Tes.

a. Alat ukur Tes

Gronlund menyatakan bahwa tes adalah suatu prosedur sistematis untuk mengukur sampel yang representatif tentang tugas-tugas peserta didik (Gronlund, 1993: 1). Pendapat yang lebih spesifik dikemukakan oleh Salvia dan Ysseldyke yang menyatakan bahwa tes adalah seperangkat pernyataan atau tugas-tugas untuk menentukan bentuk respon yang berkenaan dengan perilaku peserta didik (Salvia dan Ysseldyke, 1995:32). Jenis-jenis tes inipun dapat dibedakan menjadi dua bagian besar, yaitu tes tertulis dan tes lisan.

i. Tes tertulis

Secara umum, tes tertulis terdiri dari beberapa jenis, antara lain :

a) Tes Subjektif, yang pada umumnya berbbentuk esai (uraian). Tes bentuk esai adalah sejenis tes kemajuan belajar yang memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan atau uaraian kata-kata. Kebaikan tes seperti ini adalah : mudah disiapkan, tidak memberikan banyak spekulasi atau untung-untungan, mendorong siswa mengemukakan pendapat, dan dapat diketahui sejauh mana siswa memahami suatu masalah. Namun di samping itu pula tes esai ini memiliki kelemahan antara lain : kadar validitas dan realibilitasnya rendah, kurang representatif dalam mewakili seluruh scope bahan pelajaran, cara pemeriksaan yang cenderung subjektif dan agak susah untuk dilakukan, serta dibutuhkan waktu yang lama dalam mengoreksinya.

b) Tes Objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. Hal ini memang dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan soal-soal berbentuk esai. Macam-macam tes objektif antara lain sebagai berikut.

- Tes benar-salah (true-false) : soal-soalnya berupa pernyataan-pernyataan (statement). Statement tersebut ada yang benar dan ada yang salah. Orang yang ditanya bertugas untuk menandai masing-masing pernyataan itu dengan melingkari huruf B jika pernyataan itu betul, dan melingkari huruf S jika pernyataannya salah. Kebaikan tes seperti ini adalah : dapat mencakup bahan yang luas, mudah penyusunannya, dapat digunakan berkali-kali, cepat dan objektif, serta cara pengerjaannya mudah dimengerti. Sedangkan kelemahan tes model ini adalah : sering membingungkan, mudah ditebak/diduga, banyak masalah yang hanya dinyatakan hanya dengan dua kemungkinan benar salah, dan hanya mengungkapkan daya ingat atau pengenalan kembali

- Tes pilihan ganda (multiple choice test), terdiri atas suatu keterangan atau pemberitahuan tentang suatu pengertian yang belum lengkap, dan untuk melengkapinya harus memilih satu dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan. Dapat dikatakan pula muliple choice test terdiri atas bagian keterangan (stem) dan bagian kemungkinan jawaban (option) terdiri atas satu jawaban yang benar yaitu kunci jawaban dan beberapa pengecoh (distractor). Bentuk-bentuk variasi soal pilihan gnda (muliple choice test) seperti : pilihan ganda biasa, hubungan antarhal (pernyataan-SEBAB-pernyataan), kasus (dapat muncul dalam berbagai bentuk), diagram, gambar, tabel dan sebagainya, serta bentuk asosiasi.

- Monjodohkan (matching test) dapat digantikan istilahnya dengan mempertandingkan, mencocokkan, memasangkan, atau menjodohkan. Matcing test terdiri atas satu seri pertanyaan dan satu seri jawaban. Masing-masing pertanyaan mempunyai jawaban yang tercantum dalam seri jawaban. Tugas murid ialah : mencari dan menempatkan jawaban-jawaban, sehingga sesuai atau cocok dengan pertanyaannya.

- Tes isian (completion test) biasa kita sebut tes menyempurnakan atau tes melengkapi. Completion test terdiri atas kalimat-kalimat yang ada bagian-bagiannya yang dihilangkan. Bagian yang dihilangkan atau yang harus diisi oleh murid ini adalah merupakan pengertian yang kita minta dari murid.

ii. Tes Lisan

Merupakan tes yang diberikan oleh guru kepada peserta didik untuk mengukur kemampuan siswa dengan metode-metode yang disampaikan secara lisan atau tanya jawab. Tes lisan ini memberikan indikasi kepada guru dalam menilai siswanya karena melalui tes seperti ini guru akan lebih mudah mengetahui kemampuan siswa-siswanya melalui kemampuan berbicara dan mengemukakan kerangka berpikirnya.

b. Alat Ukur Non Tes (Typical Performance Test)

Alat ukur non tes atau typical performance test ini terdir dari beberapa jenis, antara lain sebagai berikut.

i. Skala atau alat ukur kiraan (Rating)

Skala adalah seperangkat lambang atau angka yang dibuat sehingga melalui aturan, lambang atau angka itu dapat ditempatkan pada individu yang menjadi sasaran penggunaan skala itu. Urutan level skala dari tinggi ke rendah adalah : level rasio, level internal, level ordinal, level nominal. Pada alat ukur kiraan (rating), memberi kesempatan kepada responden untuk : 1) memilih satu letak pada satu bentang jawaban, 2) memilih butir yang cocok dengan kiraan responden, 3) memberi peringkat kepada beberapa hal sesuai dengan kiraan responden. Ada beberapa jenis alat ukur skala ini, seperti :

- Alat ukur kiraan Skala Likert : setiap butir terdiri atas suatu pernyataan; dan untuk pernyataan itu, responden dapat memilih satu di antara lima tawaran (SS=sangat setuju, S=setuju,R=ragu, TS=tidak setuju, STS=sangat tidak setuju).

- Alat ukur dengan Skala Frekuensi Verbal: skala untuk dipilih; 1 = selalu; 2 = sering; 3 = ada kalanya; 4 = jarang; 5 = tidak pernah.

- Alat ukur Skala Ordinal, biasanya skala jenis ini memberikan suatu pernyataan yang harus dijawab dengan beberapa skala pilihan sesuai dengan keadaan.

- Alat ukur dengan Skala Komparatif

- Alat Ukur dengan Skala Numerik

- Alat Ukur dengan Pilihan Kata Sifat

- Alat Ukur dengan Skala Stapel

- Alat Ukur dengan Skala Peringkat

- Alat Ukur dengan Skala Diferential Semantik dari OSGOOD

- Alat Ukur kiraan Skala Thurstone, terdiri atas sejumlah butir, setiap butir mempunyai nilai yang terletak di antara 1 sampai 11 adalah sama atau kira-kira sama.

ii. Alat ukur observasi

Observasi atau pengamatan digunakan untuk mengukur perilaku peserta didik atau kegiatan proses pembelajaran, dan harus dilakukan pada saat proses kegatan berlangsung. Paling sdikit ada tiga jenis observasi, yaitu : 1) observasi langsung, yakni pengamatan yang dilakukan terhadap suatu proses atau situasi yang sebenarnya dan langsung diobservasi oleh pengamat; 2) observasi tidak langsung, yakni pengamatan yang dilakukan dengan menggunakan alat bantu, misalnya mikroskop; 3) observasi partisipasi, yakni observasi yang dilakukan dengan melibatkan diri pengamat pada kegiatan yang diamati, sehingga pengamat dapat menghayati, merasakan dan mengalami sendiri.

iii. Wawancara atau interview dapat digunakan untuk menilai hasil dan proses belajar. Wawancara bisa direkam sehingga jawaban responden bisa dicatat secara lengkap. Ada dua jenis wawancara, yakni 1) wawancara berstruktur (wawancara yang jawabannya telah disiapkan sehingga pewawancara tinggal mengkategorikannya pada alternatif jawaban yang telah dibuat) dan wawancara bebas (wawancara yang tidak menyiapkan alternatif jawaban, tetapi responden bisa secara bebas mengemukakan pendapatnya ).

iv. Kuesioner (questionnaire) juga sering dikenal sebagai angket (daftar pertanyaan). Pada dasarnya kuesioner adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh responden (objek ukur).

v. Studi kasus pada dasarnya bertujuan untuk mempelajari secara mendalam seorang individu yang dipandang mengalami suatu kasus tertentu.

vi. Daftar cocok (Check list) adalah sejumlah pernyataan (biasanya singkat), dimana responden yang dinilai hanya membubuhkan tanda cocok (v) pada tempat yang telah disediakan.

vii. Riwayat Hidup adalah gambaran tentang keadaan seseorang selama dalam masa hidupnya. Dengan mempelajri daftar riwayat hidup, penilai akan dapat menarik kesimpulan tentang kepribadian, kebiasaan, dan sikap dari orang yang dinilai.

viii. Sosiometri adalah suatu teknik untuk mempelajari atau mengetahui hubungan sosial peserta didik atau subjek didik yang dinilai. Dengan teknik sosiometri dapat diketahui posisi seseorang peserta didik dalam hubungan sosialnya dengan teman-temannya.

4. Contoh pelaksanaan asessmen yang terdiri dari jenis tes objektif dan esai serta dihitung dengan Penilaian Acuan Patokan (PAP) :

Seorang guru memberikan tes kepada siswanya pada mata pelajaran Sejarah. Soal yang diberikan berupa tes obyektif, yaitu pilihan ganda sejumlah 100 butir, dan soal esai sebanyak 10 butir. Guru telah memiliki sebuah acuan penilaian yang berbentuk Penilaian Acuan Patokan, dimana guru telah menentukan skor 60 sebagai skor terendah untuk tuntas belajar, dan jika di bawah skor 60 maka siswa tersebut dinyatakan remidi. Rentang nilai dan predikat yang didapat nantinya dapat dilihat pada tabel berikut.

Prosentase

Predikat

91% - 100%

A

80% - 90%

B

71% - 80%

C

60% - 70%

D

<60%

E

Budi, salah seorang murid telah mengikuti tes yang diberikan oleh guru. Ternyata Budi hanya mampu menjawab dengan benar 78 soal pilihan ganda dan 8 soal esai. Jadi perhitungan nilai yang diberikan oleh guru adalah sebagai berikut.

Soal pilihan ganda yang benar (A)= 78

Soal esai yang benar (B) = 8

Maka,

A = 78 x 100 % = 78 %

100

B = 8 x 100 % = 80 %

100

Oval: 79 %


Nilai yang diberikan adalah A + B = 78 % + 80 % =

2 2

Sesuai dengan rubrik di atas yang ditentukan oleh guru, maka Budi mendapapat predikat/nilai C dan tidak perlu menempuh remidi karena telah dianggap tuntas menempuh pelajaran tersebut.

Daftar Rujukan

Arikunto, Suharsimi, Prof.,Dr.2002. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta : PT Bumi Aksara

Nurkanca, Drs. I Wayan. 1982. Evaluasi Pendidikan. Surabaya : Usaha Nasional

Slameto, Drs,.1988. Evaluasi Pendidikan. Jakarta : PT Bumi Aksara

Surapranata, Sumarna,Dr. 2004. Panduan Penulisan Tes Tertulis (Implementasi kurikulum 2004). Jakarta: PT Remaja Rosdakarya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar