Menurut Anda, apakah Gus Dur pantas dianugerahi gelar Pahlawan Nasional?

WELCOME TO ADI SANJAYA BLOG

Mari Kita Berpetualang Melewati Ruang dan Waktu Melalui Sebuah Pesona Perlawatan Sejarah

Rabu, 21 Oktober 2009

SUKU BAJAU DI BALI BARAT

MENELUSURI JEJAK “SANG PELAUT”

DI UJUNG BARAT PULAU DEWATA

(Identifikasi Jejak Peninggalan Suku Bajau di Desa Perancak)

Pengantar

Laut di Indonesia merupakan kawasan terluas dibandingkan kawasan daratan. Sekitar 3:1 kawasan laut Indonesia memiliki potensi yang sangat luar biasa. Namun sebagaian besar usaha pemanfaatan sumber daya alam hanya berusaha mengeksploitasi sumber daya alam darat saja. Banyak kawasan yang sangat sesuai dan strategis untuk pengembangan usaha kelautan.

Desa Perancak yang merupakan sebuah desa di kawasan Kabupaten Jembrana memiliki lokasi yang sangat strategis bagi pengembangan kebudayaan kelautan. Hal ini sangat memungkinkan karena Perancak terletak di sebuah semenanjung yang menjorok ke arah Barat Daya pulau Bali. Kondisi alam seperti ini memungkinkan masyarakat yang tinggal di desa Perancak mampu untuk mengembangkan kebudayaan bahari dan mengambil keuntungan (penghidupan) dari laut itu sendiri. Bahkan sampai sekarangpun masyarakatnya masih bisa mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan yang telah diturunkan dari generasi ke generasi itu.

Tentu saja kondisi alam seperti ini selain sangat potensif dalam pengembangan ekonomi dan budaya bahari, bisa juga menjadi tempat persinggahan/berlabuhnya kapal-kapal dari daerah lain. Hal inilah yang terjadi pada masa sebelumnya datangnya Dang Hyang Nirartha ke Bali. Pada saat itu wilayah ini belum bernama Desa Perancak, namun dulu bernama Tanjung Ketapang. Pada saat itu daerah Tanjung Ketapang diperintah oleh seorang pemimpin yang sangat sombong dan congkak bernama I Gusti Ngurah. I Gusti Ngurah mengharuskan semua masyarakat wilayah tersebut dan semua pendatang untuk menyembahnya selayaknya orang yang menyembah dewa. Pada saat itulah telah datang kelompok suku Bajau ke Tanjung Ketapang sebagai suku laut. Selama di sana, suku Bajau ini juga diharuskan untuk menyembah I Gusti Ngurah ini. Selama tinggal di sana suku Bajau ini membuat sebuah sumur dan sebuah kuburan (sema) karena diminta oleh I Gusti Ngurah. Sampai pada akhirnya datanglah Dang Hyang Nirartha ke Tanjung Ketapang untuk menyadarkan tindakan sewenang-wenang pemimpinnya. I Gusti Ngurah menyuruh Dang Hyang Nirartha untuk menyembahnya, dan pada saat beliau membungkuk untuk menyembah istana milik I Gusti Ngurah tersebut hancur (encak). Selanjutnya wilayah Tanjung Ketapang itu berubah nama menjadi Pura Encak dan disambung pengucapannya menjadi Purancak, selanjutnya disempurnakan lagi untuk mempermudah pengucapannya menjadi Perancak.

Jejak Suku Bajau di Desa Perancak

Suku Bajau yang sempat datang di desa Perancak telah membawa beberapa jejak yang masih ada sampai sekarang. Jejak-jejak itu berupa Sema Bajo,Sumur Bajo dan perahu bercadik yang masih digunakan sampai sekarang. Semua peninggalan itu diwariskan dari generasi ke generasi sehingga mampu bertahan sampai sekarang.

Sema Bajo merupakan sebuah komplek kuburan yang dibuat pada masa pemerintahan I Gusti Ngurah di Perancak. Dinamakan Sema Bajo karena Sema­ berarti kuburan dan Bajo merupakan suku pendatang yang membuat kuburan itu. Dahulu, Sema Bajo ini hanya diperbolehkan untuk mengubur orang-orang yang termasuk dalam golongan penting dan orang-orang yang dihormati, seperti raja, keluarga raja, pendeta dan tokoh masyarakat. Sedangkan untuk masyarakat biasa yang tinggal di sana tidak diperkenankan mengubur mayat di sana apabila salah satu anggota keluarganya meninggal. Sekarang, lokasi Sema Bajo ini terletak di wilayah desa Pengambengan, yaitu wilayah desa yang terletak di seberang sungai Perancak. Sampai sekarang tempat ini disakralkan karena mempunyai nilai historis yang menandai jejak suku Bajau di daerah Bali.

Apabila kita telusuri lebih jauh lagi mengenai jejak “sang pelaut” ini, kita dapat temukan sebuah sumur tua yang terdapat di dekat muara sungai Perancak. Sumur tersebut oleh masyarakat sekitar diberi nama Sumur Bajo. Sumur tersebut dahulunya hanya boleh dimanfaatkan oleh keluarga raja saja, sedangkan tidak dibenarkan pemanfaatan airnya oleh masyarakat biasa. Hal tersebut dimungkinkan karena sulitnya mencari sumber air di desa Perancak, ditambah lagi keunikan dari sumur ini. Keunikan yang dimaksud adalah sumur ini terletak sangat berdekatan dengan pantai. Sekitar 5 meter di sebelah utara adalah muara sungai Perancak yang tentu saja menyambung dengan laut, dan sekitar 50 meter di sebelah selatannya adalah laut. Namun walaupun diapit oleh sumber air asin, air sumur itu tetap terasa tawar. Hal inilah yang membuktikan kesucian sumur itu bagi masyarakat desa Perancak, dan sampai sekarang Sumur Bajo itu difungsikan sebagai tempat mebeji jika ada piodalan di pura-pura setempat.

Jejak bahwa suku Bajau pernah singgah di desa Perancak juga dapat dibuktikan dengan adanya penggunaan perahu bercadik sebagai alat transportasi menangkap ikan oleh nelayan-nelayan di desa Perancak. Kebudayaan perahu bercadik yang oleh penduduk setempat dikenal dengan nama jukung disinyalir merupakan warisan kebudayaan pada saat datangnya suku Bajau yang menggunakan perahu bercadik. Perahu bercadik yang berkembang sampai sekarang di Desa Perancak adalah perahu bercadik ganda yang dilengkapi dengan layar. Bentuknyapun sekarang telah lebih disempurnakan dan tenaga penggerak tambahannya dengan menggunakan mesin. Sehingga dapat dikatakan tradisi kenelayanan di desa Perancak bermula dari datangnya suku Bajau ke daerah ini dan dikembangkan lebih lanjut sesuai dengan budaya setempat.

Terkait dengan peninggalan suku Bajau di Desa Perancak, di Kelurahan Loloan juga terdapat sebuah warisan budaya masyarakat Bajau, yaitu berupa rumah panggung yang masih ada sampai sekarang, namun jumlahnya makin terbatas. Hal ini dapat kita analisa dari wilayah kelurahan Loloan yang dilalui oleh sungai Ijogading. Sungai Ijogading ini membelah kota Negara dan bermuara di Sungai Perancak. Kemungkinan yang bisa terjadi adalah orang-orang Bajau yang singgah di Perancak meneruskan perjalanannya menelusuri sungai tersebut. Orang-orang Bajau tersebut sering berteriak-teriak “Liloa-liloa” yang dalam bahasa Bugis berarti “sungai yang berkelok-kelok”. Dan dari kata “Liloa” ini berkembang menjadi Loloan. Orang-orang Bajau ini bermukim dan membawa kebudayaan rumah panggung yang merupakan kebudayaan orang Bajau di daerah asalnya sebagai masyarakat pantai. Masyarakat pantai di Sulawesi menggunakan rumah panggung dari kayu sebagai tempat tinggalnya, bahkan sampai sekarangpun masih digunakan budaya seperti itu. Kebiasaan seperti itu digunakan sampai di Bali, bahkan hal tersebut terlihat dari jenis kayu yang digunakan yang berasal dari wilayah pedalaman yang sangat kokoh sebagai bahan bangunan.

Penutup

Indonesia sebagai negara maritim seakan-akan melupakan sejarah kebahariannya. Hal tersebut terlihat dari adanya keterbatasan pemanfaatan sumber daya alam laut dalam menunjang perekonomian masyarakat. Padahal kalau dilihat dari sejarahnya, nenek moyang bangsa Indonesia adalah sebagai pelaut, salah satunya suku Bajau yang merupakan suku petualang. Petualangan suku Bajau tidak hanya terbatas pada daerah-daerah di nusantara, tetapi juga daerah lain di luar nusantara. Salah satu tempat suku Bajau menginjakkan kakinya di daerah Bali adalah desa perancak. Di sini kelompok suku tersebut membangun beberapa peninggalan kebudayaan yang masih dapat diwarisi sampai sekarang.

Sebagai generasi muda, hendaknya kita mampu melestarikan dan mengapresiasi peninggalan-peninggalan seperti itu karena kita sebagai bangsa maritim yang besar harus mampu melestarikan hal-hal yang bernilai maritim histories sehingga menjadi identitas kebaharian bagi bangsa kita ini. Indonesia yang dikelilingi oleh lautan memiliki sumber daya yang sangat kaya. Semua itu harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar