Countdown

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini

The Daily Puppy

Fish

Masuk

GoogleNews

Loading...

Menurut Anda, apakah Gus Dur pantas dianugerahi gelar Pahlawan Nasional?

WELCOME TO ADI SANJAYA BLOG

Mari Kita Berpetualang Melewati Ruang dan Waktu Melalui Sebuah Pesona Perlawatan Sejarah

Rabu, 21 Oktober 2009

MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN

TUGAS ILMU BUDAYA DASAR


1. Masyarakat dan kebudayaan bersifat dialektis :

Kebudayaan sering diartikan sama dengan kemanusiaan. Manusia menciptakan kebudayaan karena hakikat kemanusiaannya, dan setelah kebudayaan tercipta, dengan itu manusia melestarikan ”peri kemanusiaannya” (Dharmayuda, 1995: 1). Menurut Widagdho,dkk (2003: 21), bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia untuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar, yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat. Dari kedua pengertian tersebut, terlihat bahwa antara masyarakat dan kebudayaaan memiliki hubungan yang sangat erat dan tidak dapat berdiri sendiri. Hakikat manusia adalah sebagai makhluk individu, yaitu manusia yang hidup karena manusia itu sendiri. Selain itu pula manusia dikatakan sebagai makhluk sosial (Homo Socialicus), yaitu manusia tidak dapat hidup dan berkembang tanpa bantua dari manusia yang lainnya. Selain hakikat manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, hakikat lain dari manusia seperti makhluk religius (makhluk yang memiliki kepercayaan atau keyakinan tertentu), makhluk ekonomi (Homo Economicus : makhluk yang berusaha mencukupi kebutuhan hidupnya dan selalu mencari keuntungan), makhluk menyejarah (makhluk yang mempunyai sejarah dalam kehidupannya dan menciptakan sejarah dalam perkembangan peradabannya), makhluk membudaya (makhluk yang selalu menghasilkan kebudayaan untuk menjaga eksistensinya, sebagai akibat manusia memiliki akal dan budi), makhluk transedentalia (makhluk yang jauh dari hal-hal yang bersifat empirik, selalu percaya akan adanya kekuatan lain di luar dirinya), dan makhluk idealita (makhluk yang percaya bahwa abstraksi dari pikiran dan gagasan merupakan hal yang paling idealis).

Terkait dengan hal itu, manusia akan menghasilkan kebudayaan yang memiliki hakikat tersendiri yang terdiri dari wujud dan unsur universal kebudayaan. Berdasarkan wujudnya, kebudayaan terbagi menjadi tiga wujud, yaitu seperti yang diungkapkan oleh J.J. Honigmann bahwa wujud kebudayaan berupa (1) ideas, (2) activities, (3) artefacts (Koentjaraningrat dalam Alfian, 1985). Jadi kebudayaan dapat berwujud ide/konsep, aktivitas sosial, dan benda fisik hasil karya manusia. Sedangkan dilihat dari unsur universalnya, maka kebudayaan terbagi menjadi 7 unsur yaitu :


- Sistem religi/kepercayaan

- Sistem organisasi kemasyarakatan

- Bahasa

- Sistem mata pencaharian

- Sistem pengetahuan

- Kesenian

- Sistem teknologi


Jadi antara masyarakat dan kebudayaan terjadi hubungan yang bersifat dialektis, artinya antara hakikat yang terdapat pada manusia itu berpengaruh dan mempengaruhi hakikat yang ada pada kebudayaan. Kebudayaan merupakan desain kehidupan manusia (design for living). Hubungan masyarakat dan kebudayaan yang bersifat dialektis ini sering disebut dengan Dialektika Budaya. Dalam dialektika budaya terjadi tiga proses antara lain :

- Proses eksternalisasi : pencurahan hati secara terus menerus terhadap produknya sendiri sehingga menghasilkan suatu karya/budaya.

- Proses internalisasi : proses pengkajian kembali sehingga menghasilkan suatu objek.

- Proses obyektivasi : proses yang berusaha menghasilkan kembali suatu produk budaya.

Terlepas dari proses yang terjadi, salah satu contoh yang dapat kita ambil dari dialektika kebudayaan adalah bahwa berdasarkan ciri-cirinya, suatu masyarakat mempunyai sistem sosial keseluruhan di mana para anggotanya memiliki tradisi dan bahasa yang sama (Keesing, 1989: 75). Di sana dapat kita lihat adanya hakikat manusia sebagai makhluk sosial yang terbentuk dalam suatu kelompok masyarakat dikaitkan dengan salah satu unsur kebudayaan, yaitu bahasa.

2. Hakikat manusia memiliki berbagai dimensi di antaranya dimensi transedentalia, idealita, sosialita, dan dimensi moderialita :

- Dimensi transedentalia : maksudnya adalah bahwa manusia percaya dan yakin terhadap kekuatan-kekuatan diluar diri manusia. Manusia menyadari bahwa masih ada kekuatan yang jauh lebih hebat dari kekuatan manusia. Manusia percaya bahwa segala kekuatan yang ada di alam dikuasai oleh satu penguasa, yaitu Tuhan. Bumi, air, tanah, api, angin, dan angkasa yang memiliki fenomena tersendiri adalah wujud nyata keterbatasan manusia dibandingkan dengan kekuasaan Sang Pencipta.

- Dimensi idealita : maksudnya adalah manusia adalah makhluk pemikir yang mempunyai pemikiran, ide dan gagasan yang bersifat abstrak. Namun demikian hal yang bersifat abstrak tersebut tetap dipandang sebagai suatu hal yang idealis. Hal tersebut berpangkal dari adanya pandangan bahwa segala yang telah ada dan akan ada berawal dari abstraksi pikiran manusia. Manusia memandang hal yang paling ideal adalah hal yang berawal dari abstraksi pikiran. Sedangkan apabila telah termanifestasi lewat perilaku atau hasil karya, seringkali buah pikiran menjadi berbeda dari semula.

- Dimensi sosialita : bahwa manusia selain sebagai makhluk individu manusia juga sebagai makhluk sosial karena manusia tidak akan dapat hidup dan berkembang tanpa manusia lainnya. Walaupun manusia itu bisa hidup sendiri dengan makanan, namun manusia tidak akan bisa berkembang tanpa adanya manusia lain dalam memenuhi kebutuhan biologisnya. Selain itu pula, lingkungan sosial (masyarakat) merupakan salah satu lingkungan terpenting agar manusia itu terbentuk menjadi ”lebih manusia”. Tiap-tiap manusia tahu bahwa ia anggota dari berbagai jenis kelompok (Fishcer, 1980: 30).

- Dimensi moderialita : bahwa manusia selalu ingin menjadi dirinya yang modern, maju dan berkembang sesuai perkembangan jaman. Hal tersebut karena setiap jaman mempunyai zeitgeist (jiwa jaman) yang berbeda-beda. Sedangkan manusia sifatnya selalu ingin mencoba hal-hal yang baru. Oleh karena itu, manusia ingin mencoba hal baru tersebut yang bersifat kemajuan dan kemodernan.

3. Pandangan saya tentang nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan di era kebudayaan global (globalisasi) :

Globalisasi yang terjadi pada abad XXI merupakan sebuah fenomena yang paling menonjol saat ini. Proses perubahan ini disebut Alvin Toffler sebagai gelombang ketiga, setelah berlangsung gelombang pertama (agrikultur) dan gelombang kedua (industri). Perubahan-perubahan yang demikian menyebabkan terjadinya pula pergeseran-pergeseran kekuasaan dari pusat kekuasaan yang bersumber pada tanah, kemudian kepada kapital atau modal, dan selanjutnya (dalam gelonbang ketiga) kepada penguasaan terhadap informasi (IT) (Esten, 1999:30-31). Artinya dapat dikatakan bahwa era globalisasi telah membuat dunia ini seperti tanpa sekat/batas karena setiap orang di dunia ini dapat mengakses informasi dengan sangat cepat.

Implikasi dari fenomena di atas adalah bahwa orang yang tidak bisa mengendalikan arus informasi akan terjerumus ke dalam situasi yang tidak diharapkan oleh masyarakat kebanyakan. Oleh karena informasi yang dapat diakses ini tanpa batas, maka segala jenis informasi, baik yang bersifat positif maupun negatif, akan diterima dengan mudah. Informasi yang bersifat negatif inilah yang menimbulkan kemerosotan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan di Indonesia.

Menurut saya, nilai-nilai kemanusiaan di era global ini semakin merosot karena setiap hari kita mendengar pasti saja terjadi tindak kriminal, baik itu pembunuhan, pencurian, pemerkosaan, pencabulan, penganiayaan, sampai pada kasus teror dan korupsi. Itu menandakan bahwa nilai kemanusiaan yang tertanam di dalam diri setiap orang sudah tidak bagus lagi, karena tidak ada lagi rasa menghargai eksistensi manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Setiap orang selalu ingin berdiri di atas orang lain, tidak hanya dengan persaingan namun juga dengan cara menjatuhkan orang lain.

Sedangkan mengenai nilai-nilai kebudayaan sepertinya sudah tidak seperti dulu lagi. Hal tersebut karena perkembangan informasi, akibatnya orang Indonesia kebanyakan terpengaruh budaya barat, atau yang sering kita sebut Westernisasi. Orang Indonesia tidak lagi begitu diharuskan memakai identitas budayanya, karena mereka merasa malu dikatakan kuno dan ketinggalan jaman. Malahan barometer seseorang dikatakan orang yang modern, gaul, dan up to date adalah orang yang selalu mampu mengikuti perkembangan jaman, khususnya yang datangnya dari dunia barat. Padahal budaya daerah sebagai unsur dari kebudayaan nasional merupakan identitas kita sebagai manusia Indonesia.

4. Salah satu contoh unsur kebudayaan yang dinilai sebagai manifestasi kebudayaan :

Sebelum kita melihat contoh, dapat kita simak bahwa perwujudan dari manifestasi dan implementasi pikiran, watak, perasaan, dan kemauan manusia akan terjelma secara nyata dalam berbagai corak dan ragam sesuai dengan keinginannya berupa benda-benda yang ia butuhkan maupun yang diperlukan oleh orang banyak seperti kebutuhan akan makanan, pakaian, perumahan, ilmu pengetahuan dan teknologi, maupun yang bersifat hiburan atau keindahan (Situmorang, 1993: 2). Jadi kebudayaan yang berawal dari adanya keinginan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya akan dapat terimplementasikan lewat berbagai cara dan berbagai manifestasi kebudayaan. Di bawah ini akan saya paparkat sebuah contoh unsur kebudayaan yang dinilai sebagai manifestasi kebudayaan :

Ukiran khas Bali merupakan salah satu jenis ukiran yang sangat terkenal, bahkan sampai ke mancanegara. Ukiran Bali mempunyai keunikan dan idealisme tersendiri dibandingkan dengan ukiran lain. Kita ambil contoh ukiran yang sering kita lihat yaitu Garuda Wisnu Kencana yang kini bahkan diabadikan menjadi sebuah patung/monumen raksasa di bukit Pecatu, Bali. Patung Garuda Wisnu Kencana tersebut berawal dari sebuah ide (pemikiran) bagaimana mewujudkan salah satu dewa dalam kepercayaan Hindu (wisnu), namun bisa dinikmati pula oleh orang non Hindu. Caranya yaitu lewat kesenian yang diwujudkan lewat ukiran dari kayu dan dibumbui nuansa seni. Aspek pengerjaan dari pemilihan kayu terbaik, pengukiran, sampai dengan pewarnaan merupakan suatu kesatuan agar apa yang diinginkan bisa terselesaikan. Hal tersebut merupakan gambaran budaya sebagai hasil tindakan. Akhirnya setelah semua proses terselesaikan, maka jadilah sebuah patung dari kayu yang mempunyai daya estetika/seni yang tinggi. Aspek ini merupakan manifestasi budaya sebagai benda hasil karya.

Daftar Rujukan

Dharmayuda, I Made Suasthawa,SH. 1995. Kebudayaan Bali : Pra-Hindu, Masa Hindu dan Pasca Hindu. Denpasar: Kayumas Agung

Esten, Mursal.,Prof.,DR. 1999. Desentralisasi Kebudayaan. Bandung : Penerbit Angkasa

Fishcer, H.TH.Dr. Pengantar Anthropologi Kebudayaan Indonesia. PT. Pembangunan

Koentjaraningrat. 1985. Persepsi Tentang Kebudayaan Nasional, dalam Alfian (ed), Persepsi Masyarakat Tentang Kebudayaan. Jakarta : PT. Gramedia

Situmorang, Oloan, Drs. 1993. Seni Rupa Islam : Pertumbuhan dan Perkembangannya. Bandung : ANGKASA (Anggota IKAPI)

Widagdho dkk, Djoko, Drs. 2003. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta : Bumi Aksara

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar