Menurut Anda, apakah Gus Dur pantas dianugerahi gelar Pahlawan Nasional?

WELCOME TO ADI SANJAYA BLOG

Mari Kita Berpetualang Melewati Ruang dan Waktu Melalui Sebuah Pesona Perlawatan Sejarah

Rabu, 21 Oktober 2009

TEORI SOSIAL BUDAYA DALAM ILMU SOSIOLOGI

TEORI SOSIAL BUDAYA

DALAM ILMU SOSIOLOGI

A. PENGERTIAN SOSIOLOGI

Sosiologi merupakan kajian ilmiah tentang kehidupan sosial manusia secara konvensional . Sosiologi dibagi menjadi 2 teori :Sosiologi makro adalah salah satu usaha ilmu sosiologi yang mempersembahkan segala usaha untuk mengkaji berbagai pola sosial berskala besar ,sedangkan Sosiologi mikro adalah salah satu ilmu sosiologi yang menyelidiki berbagai pala pikir dan perilaku yang muncul dalam kelompok-kelompok yang berskala kecil .

B. TEORI-TEORI SOSIOLOGI MENURUT PARA TOKOH

TEORI SOSIOBUDAYA KLASIK

PEMIKIRAN EMILE DURKHEIM

  • Secara politik Durkheim seorang liberal tapi secara intelektual ia tergolong konservatif
  • Sebagian besar karyanya banyak mengarah pada tertib sosial.
  • Menurutnya kekacauan sosial bukan keniscayaan dunia modern dan dapat dikurangi melalui reformasi sosial.
  • Dalam The Rule Of Sociological (1895/1982) menurut durkheim sosioilogi mempelajari apa yang disebutnya sebagai fakta-fakta sosial.
  • Ia membayamhkan fakta sosial sebagai kekuatan (forces) dan struktur yang bersifat eksternal dan memaksa individu.
  • Studi tentang kekuatan dan struktur ini misalnya hukum yang melembaga dan keyakinan moral bersama dan pengaruhnya terhadap individu.
  • Dalam bukunya soicide (1897-1951) durkheim berpendapat bahwa bila ia dapat menghubungkan perilaku individu seperti bunuh diri seperti bunuh diri itu dengan sebab-sebab sosial (fakta sosial)
  • Durkheim berargumen bahwa sifat dan perubahan fakta sosiallah yang menyebabkan prbedaan rata-rata bunuh diri.
  • Contohnya perang, depresi ekonomi dapat menciptakan perasaan depresi kolektif dapat meningkatkan angka bunuh diri.
  • durkheim membedakan fakta sosial kedalam dua tipe yaitu fakta material dan fakta non material.
  • contoh fakta sosial material birokrasi,hukum.
  • Faktor non material misalkan kultur, institusi sosial.
  • Ia menyimpulkan bahwa masyarakat primitif dipersatukan oleh fakta sosial nonmaterial, khususnya oleh ikatan moralitas bersama atau kesadaran kolektif.
  • Dalam masyrakat modern ikatan dibangun melalui pembagian kerja yang ruwet, yang mengikat orang satu dengan lainnya dalam hubungan saling tergantung.
  • Pembagian kerja pada masyarakat modern menimbukan beberapa patologis.
  • Durkheim memusatkan perhatian pada fakta sosial nonmaterial yakni agama.
  • temuannya bahwa sumber agama adalah masyrakat itu sendiri.
  • Masyarakat yang menetukan bahwa sesuatu itu sakral dan lainnya bersifat profan. Khususnya totemisme.
  • Durkheim menyimpulkan masyrakat dan agama adalah sama.
  • Agama adalah cara masyarakat memperlihatkan dirinya sendiri dalam bentuk fakta sosial nonmaterial.
  • Durkheim seorang reformis yang mencari cara untuk mencari cara untuk meningkatkan fungsi masyarakat.

PEMIKIRAN KARL MARX

Menurut Marx kehidupan modrn dapat dirujuk kesumber materialnya yang riil (misalnya, struktur kapitalisme)

  • Marx benar-benar meletakan dialektikanya dalam landasan material.
  • Dengan gagasannya Marx menciptakan filsafatnya sendiri yaitu filsafat materialisme dialektika, yang menekankan pada hubungan dialektika dengan kehidupan material.
  • teori nilai tenaga kerja ; dalam teori ini menegaskan bahwa keuntungan tenga kerja kurang dari yang selayaknya mereka terima, karena mereka menerima upah kurang dari nilai barang yang sebenarnya mereka hasilkan dalam suatu priode bekerja.
  • Nilai surplus : sistem kapitalis tumbuh melalui tingkatan eksploitasi terhadap tenaga kerja yang terus menerus meningkat (dan karena itu jumlah nilai surplus pun terus meningkat) dan dengan menginvestasikan keuntungan untuk mengembangkan sistem.
  • Marx lebih dekat sebagai ekonom ketimbang sosiolog.
  • Yang diperhatikan yakni penindasan sistem kapitalis yang dilahirkan oleh revolusi industri.
  • Perhatian Marx tertuju pada perubahan bersifat revolusi yang sangat bertentangan dengan tokoh-tokoh konservatif yang menginginkan reformasi dan perubahan secara tertib.
  • Perbedaan keduanya yang menonjol mengenai landasan filosofis antara sosiologi Marxian dan sosiologi konservatif,
  • konservatif sangat dipengaruhi oleh gagasan Immanuel Kant. Merka berfikir linier , menurut hukum sebab akibat.
  • Antara lain dapat membiasakan kita membayangkan pengaruh timbal balik terus menerus dari kekuatan sosial.
  • Pemikir dialektika akan mampu mengkonseptualisasikan ulang contoh-contoh yang dikemukakan diatas sebagai keadaan saling mempengaruhi secara terus menerus antara gagasan dan politik.
  • Secara garis besar Mark menawarkan sebuah teori tentang masyarakat kapitalis berdasarkan citranya mengenai sifat dasar manusia
  • Pada dasarnya manusia produktif,atrinya untuk mempertahankan hidup manusia menghasilakn makanan, pakaian, peralatan dll.

I. TEORI MAKROSOSIOLOGI

1. Teori Fungsionalisme

1.1. Teori Fungsionalisme Klasik

Tokoh yang mengembangkan teori ini antara lain :

a) Auguste Comte (1798-1857)

Ia seorang sarjana Perancis yang sering disebut sebagai pendiri sosiologi, menyatakan bahwa : Tiga tahap perkembangan yang dilakukan oleh masyarakat : (1) tahap teologis (theogical stage) yang diarahkan oleh nilai-nilai dialami (supernatural); (2) tahap metafisik (methaphsical stage), yakni tahap peralihan di mana kepercayaan terhadap unsur adikodrati digeser oleh prinsip-prinsip abstrak yang berperan sebagai dasar perkembangan budaya (positive or scientific stage), di mana masyarakat didukung oleh prinsip-prinsip ilmu pengetahuan.

b) Herbert Spencer (1820-1903)

Spencer ahli sosiologi dari Inggris melakukan perbandingan antara organisme individu dan organisme sosial dan mengamati bahwa sebagaimana halnya dengan organisme biologis, masyarakat manusia pun berkembang secara evolusioner dari bentuk sederhana ke bentuk kompleks. Dalam proses peningkatan kompleksitas dan diferensiasi ini, terjadi pula diferensiasi fungsi: terjadinya perubahan struktur disertai dengan perubahan pada fungsi.

c) Emile Durkheim

Durkheim merupakan tokoh sosiologi klasik yang secara rinci membahas konsep fungsi dan menggunakannnya dalam analisis terhadap berbagai pokok pembahasan (fungsi pembagian kerja, mencari fungsi suatu fakta sosial dan fungsi agama).

Pemikiran- pemikirannya sangat dipengaruhi oleh asumsi-asumsi organisme seperti terlihat dalam asumsi-asumsinya sebagai berikut:

\ Masyarakat harus dipandang sebagai satu kesatuan yang dapat dibedakan dari bagian bagiannya namun tidak dapat dipisahkan darinya.

\ Bagian-bagian suatu sistim berfungsi untuk memenuhi kepentingan sistem secara menyeluruh

\ Kepentingan-kepentingan fungsional dipergunakan dalam arti normal dan patologis. Dengan demikian satu sistem sosial harus memenuhi kebutujannya sendiri guna mencegah keadaan abnormal

\ Dengan memandang sistim secara normal, patologi dan fungsional maka ada taraf atau titik tertentu dimana harmoni dapat tercapai, sehingga fungstonalisasi secara normal berproses di sekitar titik tersebut

Dari asumsi tersebut terlihat penekanan analisis yang menyeluruh dan memandang bagian-bagian mempunyai konsekuensi untuk mencapai keadaan normal dengan memenuhi persyaratan sistim. Dalam sebuah sistim pasti memiliki tujuan dan berproses pada arah itu (teologis). Teologis muncul pada taraf individual kebutuhan untuk mengekspresikan sesuatu, pada taraf kelompok kebutuhan akan solidaritas, sehingga karena ini menyebabkan masyarakat dan individu memerlukan agama

Durkheim (Lukes, 1973:148) mengemukakan bahwa: “Ikatan solidaritas mekanik yang dijumpai pada masyarakat yang masih sederhana laksana kohesi antara benda-benda mati, sedangkan ikatan solidaritas organik yang dijumpai pada masyarakat yang kompleks laksana kohesi antara organ hidup.“

d) Ralf Dahrendorf

“Pokok fungsionalisme adalah setiap masyarakat merupakan suatu struktur unsur yang relative gigih dan stabil, mempunyai struktur unsur yang terintegrasi dengan baik, setiap unsur dalam masyarakat mempunyai fungsi yang memberikan sumbangan pada terpeliharanya masyarakat sebagai suatu sistem dan setiap struktur sosial yang berfungsi didasarkan pada konsesus mengenai nilai di kalangan para anggotanya (Dahrendorf , 1976:161 ) “

e) Turner

Turner (1978) merupakan tokoh dalam teori fungsionalisme klasik yang mengemukakan bahwa”Comte merupakan perintis pendekatan positivisme yang metode ilmiah untuk mengumpulkan data empiris”. Positivisme yang dirintis Comte mengandung ciri pengkajian fakta yang pasti, cermat, dan bermanfaat melalui pengamatan, perbandingan, eksperimen, , dan metode histories.

Untuk mendukung pandangannya bahwa sosiologi merupakan suatu ilmu,

Comte meminjam alih konsep dari ilmu-ilmu biologi. Oleh sebab itu Turner menamakan pendekatan Comte dengan pendekatan organic. Dengan menggunakan analogi organisme individu untuk menjelaskan masyarakat, Comte menyamakan strutur keluarga dengan struktur unsure atau sel, kelas, atau kasta dengan jaringan dan kota atau komunitas dengan organ. Kajian terhadap “organisme sosial” ini merupakan studi terhadap statika sosisl.

1.2. Teori Fungsionalisme Modern

a) Talcott Parsons

Ia adalah tokoh sosiologi modern yang mengembangkan analisis fungsional dan secara sangat rinci menggunakannya dalam karya-karyanya. Karya yang pertama: memakai analisis fungsional dalam buku The Social System dan karya berikutnya menguraikan fungsi berbagai struktur bagi dipertahankannya sistem sosial. Sedangkan karya yang terkenal adalah kajian mengenai fungsi struktur bagi dipecahkannya lima masalah: adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi, pemeliharaan pola dan pengendalian ketegangan (Turner, 1978:51).

b) Robert K. Merton

Ia merupakan seorang tokoh sosiologi modern yang melakukan rincian lebih lanjut dalam analisis fungsional dengan memperkenalkan konsep fungsi, disfungsi, fungsi laten dan fungsi manifest. Pemahaman mengenai berbagai konsep ini perlu karena menurut Merton tokoh fungsionalisme sebelumnya hanya menitikberatkan perhatian mereka pada konsep fungsi saja dan mengabaikan konsep disfungsi dan konsep fungsi laten (Merton, 1968).

2. Teori Konflik

2.1. Teori Konflik Awal

Dahrendort menggambarkan asumsi-asumsi utama teori konflik adalah :

- Setiap masyarakat tunduk pada proses perubahan; perubahan ada di mana-mana;

- Disensus dan konflik terdapat di mana-mana;

- Setiap unsur masyarakat memberikan sumbangan pada disintegrasi dan perubahan masyarakat;

- Setiap masyarakat didasarkan pada paksaan beberapa orang anggota terhadap anggota lain (lihat Dahrendorf, 1976:162)

a) Karl Marx

Sumbangan Marx kepada sosiologi terletak pada teorinya mengenai kelas. Marx berpendapat bahwa sejarah masyarakat hingga kini adalah sejarah perjuangan kelas (Coser, 1977:48). Dengan munculnya kapitalisme terjadi pemisahan tajam antara mereka yang menguasai alat produksi dan hanya mereka yang mempunyai tenaga. Pengembangan kapitalisme memperuncing kontradiksi antara kedua ketegori sosial sehingga pada akhirnya terjadi konflik diantara kedua kelas. Menurut ramalan Marx kaum Proletar akan memenangkan perjuangan kelas ini dan akan menciptakan masyarakat tanpa kelas dan tanpa negara. Konsep penting lainnya adalah konsep alienasi. Marx mengemukakan bahwa sejarah manusia memperlihatkan peningkatan penguasaan manusia terhadap alam serta peningkatan alienasi manusia.

b). Max Weber

Karya Weber sering dikaitkan dengan teori sosiologi yang berbeda. Uraian Weber mengenai tindakan sosial sebagai pokok perhatian sosiologi dijadikan dasar bagi pengembangan teori interaksionisme simbolik (Turner, 1978). Weber pun dianggap sebagai tokoh yang memberi sumbangan terhadap fungsionalisme awal (Turner, 1978). Namun Weber dianggap pula sebagai penganut teori konflik (Collins, 1968).

2.2. Teori Konflik Modern

a) Ralf Dahrendorf

Dia menolak beberapa pandangan Marx. Dia mengamati bahwa perubahan sosial tidak hanya datang dari dalam tetapi dapat juga dari luar masyarakat. Namun perubahan dari dalam masyarakat tidak selalu disebabkan konflik sosial, tetapi konflik kelas terdapat pula konflik sosial yang berbentuk lain. Konflik tidak selalu menghasilkan revolusi dan perubahan sosial dapat terjadi tanpa revolusi. Selanjutnya ia melihat bahwa kelas-kelas sosial tidak selalu terlibat dalam konflik.Maka ia mencatat bahwa kekuasaan politik selalu mengikuti kekuasaan di bidang industri. Dengan demikian, konflik merupakan sumber terjadinya sumber terjadinya perubahan sosial (Dahrendorf, 1976).

b) Lewis Coser

Konflik mempunyai fungsi positif bagi masyarakat (Coser, 1964). Ia mengembangkan sejumlah proposisi mengenai fungsi konflik atas dasar asas yang ditegakkan oleh tokoh teori konflik lain, George Simmel. Menurut definisi kerja Coser, konflik adalah perjuangan mengenai nilai serta tuntutan atas status, kekuasan dan sumber daya yang bersifat langka dengan maksud menetralkan, mencenderai atau melenyapkan lawan (Coser, 1964:8). Kajian Coser terbatas pada fungsi positif dari konflik, yaitu dampak yang mengakibatkan peningkatan dalam adaptasi hubungan sosial atau kelompok tertentu.

3. Teori Sistem

a) Shrode dan Voich ( 1974 )

“ Suatu sistem memiliki konotasi penting. Sistem adalah serangkaian bagian-bagian yang saling berhubungan dengan bebas dan bersama-sama dalam pencapaian tujuan umum keseluruhan dalam suatu lingkungan yang kompleks.”

b) August Comte

“ Sistem dalam hal adanya saling ketergantungan kerjasama ikatan-ikatan sosial, misalnya yang terjadi dalam pembagian kerja ekonomi “

c) Spencer

“ Perubahan pada suatu bagian di masyarakat maupun organisme akan membawa dampak secara kesuluruhan .”

d) Karl Marx

“ Menggunakan sistem dalam pandangannya tentang masyarakat dan kapitalis yang mempunyai hubungan antar kelas “

II. TEORI MIKROSOSIOLOGI

  • Sosiologi mikro adalah salah satu ilmu sosiologi yang menyelidiki berbagai pala pikir dan perilaku yang muncul dalam kelompok-kelompok yang berskala kecil .

1. Teori Pertukaran

Turner meringkas pokok pikiran teori pertukaran sebagai berikut:

- Manusia selalu berusaha mencari keuntungan dalam transaksi sosialnya dengan orang lain

- Dalam melakukan transaksi sosial manusia melakukan perhitungan untung rugi

- Manusia cenderung menyadari adanya berbagai alternatif yang tersedia baginya

- Manusia bersaing satu dengan lainnya

- Hubungan pertukaran secara umum antar individu berlangsung dalam hampir semua konteks sosial

- Individupun mempertukarkan berbagaj komuditas tak berwujud seperti jasa dan perasaan

1.1. Teori Pertukaran Klasik

a) Jeremy Bentham

Jeremy Bentham adalah salah satu pelopor dari teori pertukaran klasik (exchange theory) pada abad ke-18 di kalangan Inggris. Menurutnya :

” Para penganut prinsip kemanfaatan (utility) terdiri atas mereka yang mengukur baik-buruknya suatu tindakan dengan melihat pada penderitaan dan kesenangan (pain and pleasure) yang dihasilkan oleh tindakan tersebut. Suatu tindakan dianggap adil, baik, atau brermoral manakalah tindakan tersebut mengakibatkan hal yang menyenangkan; bila suatu tindakan menyebabkan penderitaan maka tindakan tersebut dianggap buruk, tidak adil, tidak bermoral.”

b) Marcell Mauss dan Claude Levi Strauss

Menyatakan bahwa inti dari teori ini ialah bahwa manusia adalah makhluk yang mencari keuntungan dan menghindari biaya manusia, dalam prespektif para penganut teori pertukaran, merupakan makhluk pencari imbalan.

Dan dalam perlembangannya teori ini meninggalkan asumsi utamanya yaitu, bahwa manusia tidak hanya mencari dan menukarkan komoditas material saja namun juga nonmaterial seperti jasa dan perasaan.

1.2. Teori Pertukaran Modern

a) George C. Humans

Pemikirannya antara lainkarya ahli psikologi Skinner. Humans

berpendapat bahwa :

“pertukaran yang berulang-ulang mendasari hubungan sosial yang berkesinambungan antara orang tertentu”.

Pandangan Homans ini dituangkan dalam sejumlah proposisi; salah satu di antaranya berbunyi demikian:

for all action taken by pesons, the more often a particular action is rewarded, the more likely the person is to perform that action” (Homans, 1974:16).

Menurut proposisi ini seseorang akan semakin cenderung melakukan suatu tindakan manakala tindakan tersebut makin sering disertai imbalan. Dari proses pertukaran semacam inilah, menurut pendapat Homans, muncul organisasi politik dan organisasi sosial, baik yang berupa kelompok, institusi, maupun masyarakat.

b) Peter Blau

Berbeda dengan pendapat Homans yang cenderung berpendapat bahwa semua interaksi melibatkan pertukaran, Blau berpendapat yang sebaliknya yaitu bahwa tidak semua interaksi melibatkan pertukaranJadi dapat disimpulkan bahwa pada teori ini semua aktivitas dan perbuatan yang dilakukan manusia pasti mempunyai maksud dan tujuan, memerlukan sebuah kompemsasi dan imbalan atas apa yang dilakukannya.

Pokok pikiran teori pertukaran sebagai berikut :

- Manusia selalu berusaha mencari keuntungan dalam transaksi sosialnya dengan orang lain dalam melakukan transaksi sosial manusia melakukan perhitungan untung rugi

- Manusia cenderung menyadari adanya berbagai alternatif yang tersedia baginya

- Manusia bersaing satu dengan yang lain, hubungan pertukaran secara umum antar individu berlangsung dalam

2. TEORI INTERAKSIONISME SIMBOLIK

Turner menjelaskan beberapa hal mengenai teori ini, dia berpendapat bahwa:

- Manusia merupakan makhluk yang mampu menggunakan dan menciptakan simbol

- Manusia memakai symbol ontok saling berkomunikasi.Manusia berkomunikasi melalui pengambilan peran

- Masyarakat tercipta, bertahan dan berubah berdasarkan kemampran manusia untuk berpikir, mendifinisilan, melakukan renungan dan untuk melakukan evaluasi.

2.1 Interaksionisme Simbolik Klasik

a) Georg Simmel

Dia berpandangan bahwa “ muncul dan berkembangnya kepribadian seseorang tergantung pada jaringan hubungan sosial yang dimilikinya, yaitu pada keanggotaan kelompok.”

b) Max Weber

Weber memperkenalkan interaksionisme dengan menyatakan bahwa :

“Sosiologi ialah ilmu yang berusaha memahami tindakan sosial dengan mendefinisikan dan membahas konsep dasar yang menyangkut interaksi seperti tindakan-tindakan sosial dan tindakan nasional, serta hubungan sosial. Sumbangan penting lain bagi teori sosiologi terletak pada konsep pemahaman (verstehen) dan konsep makna subyektif yang diberikan individu terhadap tindakannya, karena manusia bertindak atas dasar yang diberikannya pada tindakan tersebut”.

2.2 Interaksionisme Simbolik Modern

a) William James

James terenal karena merumuskan dan mengembangkan konsep diri (self). James berpendapat bahwa “perasaan seseorang mengenai dirinya sendiri, seseorang dari interaksinya dengan orang lain. Suatu ungkapan yang terkrnal dari James ialah has asa many social selves as threre are individulis who recognize him, jumlah diri yang dimiliki seseorang sama banyaknya dengan jumlah lingkungan sosial dimana dia berada. Dengan memakai penjelasan James ini kita dapat memahami, misalnya, mengapa di kalangan kelompok keagamaannya seseorang dikenal sebagai dermawan tetapi di kalangan keluarganya sendiri ia dikenal sebagai orang kikir, atau mengapa seseorang yang di kalangan demokratis terhadap bawahannya di lingkungan kantornya ternyata bersikap sangat otoriter terhadap istri dan anak-anaknya ”.

b) W.I. Thomas

W.I. Thomas memperkenalkan konsep the definition of the situation dalam sosiologi interaksi. Yang dimaksud Thomas dengan konsep tersebut ialah bahwa “manusia tidak langsung memberikan tanggapan (response) terhadap rangsangan (stimulus) sebagaimana halnya makhluk lain. Sebelum brertindak untuk menanggapi melakukan penelitian dan pertimbangan terlebih dahulu mendefinisikan suatu rangsangan dari luar, individu selalu melakuakan seleksi, mendrfinisikan situasi, memberi makan pada situasi yang dihadapinya.”

Ungkapan terkenal dari Thomas adalah sebagai berikut:

when men definr situation as real, they are real in their consequence”.

Jika orang mendefinisi :

situasi sebagai hal yang nyata, maka konsekuensinya nyata pula. Ketika seorang wartawan Inggris keturunan Iran mengumpulakan data mengenai instalasi militer di Irak ia medefinisiakan situasinya sebagai kegiatan pencarian berita untuk surat kabar, namun penguasa di Irak mendefinisikan situasinya sebagai kegiatan mata-mata untuk Israel sehingga wartawan tersebut harus menjalani hukuman mati.

Dari contoh diatas ini nampak bahwa situasi dapat didefinisikan secara berlainan. Sehubungan dengan ini Thomas menyebutkan adanya persaingan antar definisi situasi yang spontan, yang dibuat oleh anggota masyarakat, dan definisi yang disediakan oleh masyarakat untuknya. Menurut Thomas definisi situasi yang dibuat oleh masyarakat, keluaarga, teman, komunitas, terdiri dari atas moralitas, aturan, norma, dan hukum.

3.Teori Aksi

  • Max Weber

Asumsi dasar dari teori ini adalah bahwa tindakan manusia muncul dari kesadarannya dan dari situasi lingkungan yang mengitarinya . Teori aksi memperhitungkan sifat-sifat kemanusiaan dan aspek subyektif manusia yang diabaikan oleh teroi Behanovisme . Kemampuan individu untuk melakukan yang tersedia dalam arti menetapkan cara/alat dari sejumlah alternative yang tersedia dalam rangka mencapai tujuannya yang oleh Parson disebut Voluntarism .

4. Teori Fenomenologi

Eddmund Hassel dikenal sebagai pencetus filsafat fenomenologi . Alferd Schutz salah seorang tokoh fenomenologi berpendapat bahwa “ Suatu hubungan sosial berlangsung apabila tindakan manusia memberi arti dan makna tertentu terhadap tindakannya itu dan manusia lain memahami tindakannya itu pula sebaya sesuatu yang penuh arti. “

Teori Media dan Teori Masyarakat Media

Beberapa asumsi dasar yang melatarbelakangi kerangka teori tersebut adalah sebagai berikut. Pertama, institusi media menyelenggarakan produksi, reproduksi dan distribusi pengetahuan dalam pengertian serangkaian simbol yang mengandung acuan bermakna tentang pengalaman dalam kehidupan sosial. Pengetahuan tersebut membuat kita mampu untuk memetik pelajaran dari pengalaman, membentuk persepsi kita terhadap pengalamanitu, dan memperkaya khasanah pengetahuan masa lalu, serta menjamin kelangsungan perkembangan pengetahuan kita. Secara umum, dalam beberapa segi media massa berbeda dengan institusi pengetahuan lainnya (misalnya seni, agama, pendidikan, dan lain-lain) :

- Media massa memiliki fungsi pengantar (pembawa) bagi segenap macam pengetahuan. Jadi, media massa juga memainkan peran institusi lainnya.

- Media massa menyelenggarakan kegiatannya dalam lingkup publik; pada dasarnya media massa dapat dijangkau oleh segenap anggota masyarakat secara bebas, sukarela, umum dan murah.

- Pada dasarnya hubungan antara pengirim dan penerima seimbang dan sama.

- Media menjangkau lebih banyak orang daripada institusi lainnya dan sudah sejak dahulu ”mengambil alih” peran sekolah, orang tua, agama, dan lain-lain.

Menurut asumsi dasar diatas, lingkungan simbolik di sekitar (informasi, gagasan, keperayaan, dan lain-lain) seringkali kita ketahui melalui media massa, dan media pulalah yang dapat mengaitkan semua unsur lingkungan simbolik yang berbeda. Lingkungan simbolik itu semakin kita memiliki bersama jika kita semakin berorientasi pada sumber media yang sama. Meskipun setiap individu atau kelompok memang memiliki dunia persepsi dan pengalaman yang unik, namun mereka memerlukan kadar persepsi yang sama terhadap realitas tertentu sebagai prasyarat kehidupan sosial yang baik. Sehubungan dengan itu, sumbangan media massa dalam menciptakan persepsi demikian mungkin lebih besar daripada institusi lainnya.

Asumsi dasar kedua ialah media massa memiliki peran mediasi (penegah/penghubung) antara realitas sosial yang objektif dengan pengalaman pribadi. Media massa berperan sebagai penengah dan penguhubung dalam pengertian bahwa: media massa seringkali berada diantara kita; media massa dapat saja berada diantara kita dengan institusi lainnya yang ada kaitannya dengan kegiatan kita; media massa dapat menyediakan saluran penghubung bagi pelbagi institusi yang berbeda; media juga menyalurkan pihak lain untuk menghubungi kita, dan menyalurkan kita untuk menghubungi pihak lain; media massa seringkali menyediakan baham bagi kita untuk membentuk persepsi kita terhadap kelompok dan organisasi lain, serta peristiwa tertentu. Melalui pengalaman langsung kita hanya mampu memperoleh sedikit pengetahuan.

Media juga menerima sejumlah tanggung jawab untuk ikut aktif melibatkan diri dalam interaksi sosial dan kadang kala menunjukkan arah atau memimpin, serta berperan serta dalam menciptkan hubungan dan integrasi. Konsep media sebagai penyaring telah diakui masyarakat, karena media seringkali melakukan seleksi dan penafsiran terhadap suatu masalah yang dianggap membingungkan.

Sumber : http://www.dianprima.com/teori-sosiologi.jsp

Diakses pada 31 Maret 2009

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar